I PRELOVED THEM!

May 11, 2017

Tiga hari lalu ketika saya sedang beberes rak parfum, saya terkejut nemuin banyak banget parfum nggak kepake. Bukan karena wanginya nggak enak, bukan. Saya selalu selektif kalo beli barang, pastinya! udah cobain testernya di counter, dan ketika beli suka nggak mikir panjang, saking parfum menurut saya, bisa mengimpulsif saya sebagai wanita, hehe. Sempet kepikiran mau jual tapi berasa nggak pede. Kira-kira laku nggak ya?
Akhirnya saya spread pertanyaan via instastories, apakah baiknya saya harus buat akun preloved pribadi? Jawabannya mengejutkan, lumayan banyak yang menyambut dengan senang agar saya bikin akun preloved saja, namun beberapa menanggapi sebaliknya. 

Honestly, I need a space. My space.

Space bukan sekedar ruang tertata rapih, dan rak rak make up kalo bisa bersih dari kesan numpuk. Tapi saya butuh ruang untuk hati saya juga. Entah kenapa ada rasa kurang nyaman ketika saya menumpuk barang branded, kondisi sangat baik, terawat, namun sama sekali tidak saya manfaatkan --atau paling minim hanya pernah saya pakai sekali. Sehingga barang-barang hanya saya susun rapih saja dan terkesan impulsif soal belanja. Hasil barang-barang yang saya kumpulkan selain parfum, ada pakaian baru dengan price tag yang masih nempel, perabotan bayi, make up tools, semua dengan kondisi baik dan tidak terpakai kalau di total saya telah belanja senilai 25 juta :( hati saya sedih sekali, ternyata kebanyakan hanya tersimpan dan menumpuk tanpa ada manfaatnya bagi saya selama ini. Pernah nggak sih kalian kepikiran?
Melihat kondisi ini jelas saya harus mulai mawas lagi perihal belanja. Lebih memantau diri dan harus yakin barang terpakai, baru memutuskan untuk beli besok-besok. Jujur saja saya punya parno luar biasa mengenai barang yang tidak dimanfaatkan. Pertama ini masalah rezeki yang saya dapat. Barang dianggap rezeki yang berkah apabila dimanfaatkan, bermanfaat, dan apabila diberikan kepada orang lain akan sama manfaatnya. Tuhan mungkin memberikan uang lebih kepada saya dan keluarga, namun apabila barang yang saya beli tidak memberikan manfaat bagi saya, belum berkah namanya. Sedangkan, Tuhan mungkin memberikan rezeki berupa uang yang sedikit kepada orang yang kurang mampu, namun beliau mampu memanfaatkan rezeki itu untuk sesuatu yang kaya manfaatnya, jelas orang ini adalah orang yang sedang dalam keuntungan mengenai keberkahan Tuhan.

Saya malu sekali, dan ingin melapangkan hati.

Kedua, well, ini masalah space literally! Saya gemes harus bolak balik ngebersihin benda benda kecil macam make up tools atau parfum setiap minggu. Everything needs to be thrown! Rasanya kepengen saya buang-buangin satu persatu, tapi lagi-lagi balik ke kualitas terjamin yang saya khawatir banget malah bikin saya dosa kalau nggak dihibah kan atau dijual, dengan harapan akan bermanfaat buat pemakai selanjutnya.

Kebanyakan barang yang saya jual juga saya jatuhkan di harga yang sangat miring padahal nggak diragukan lagi kualitas masih sama dengan baru nya. See? Kalau dulu owner perusahaan barang-barang saya ini se-generous ini, kemungkinan total belanja saya hanya 5 juta saja. Dan 20 juta sisanya, saya bersumpahx akan membelikan sesuatu yang kaya manfaat. Penyesalan emang terakhiran, bu. Tapi saya merasa ada satu permasalahan yang masih kita mau tidak mau hadapi, lifestyle.

Gaya hidup makin kesini makin menuntut. Mayoritas dianggap standar gaya hidup bagi sebagian besa orang.  Entah kenapa memiliki barang mahal terasa fancy sekali, sedangkan barang murah dianggap remeh temeh. Padahal dari segi fungsi, sama persis/kembar/kembarsiam/dll. Iya nggak sih? hahaha. Seperti beberapa waktu lalu contohnya, saya sudah beli stroller Bugaboo Bee 3 di Singapore dengan harga yang lumayan, dengan janji-janji stroller tersebut lightweight, easy-fold, khusus buat traveler. Ternyata stroller bulky sekali, dan berat nya 9 kilo. Kalo gendong Neymar yang 10 kilo aja saya kuat, kalo musti gendong stroller. Maaf-maaf eh. hehe
Akhirnya stroller kelipet cantik di kamar Neymar, tuh. Dan nyeselnya luar biasa.


Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan barang-barang layak guna untuk akhirnya saya lelang di akun preloved saya @shopvinascloset di Instagram, dan beberapa saya titip di akun Shopee milik temen. Kalau berminat, silahkan di cek ya!

Moral of the story : 
Manfaatkan barang milik kalian dengan sebaik-baiknya. Kalau kira-kira sudah tidak dimanfaatkan, bisa di hibah-kan, atau dijual. Mengingat sudah banyak sekali apps rekber macam Carousell atau Shelter yang gampang dan aman untuk transaksi. Fiturnya pun beragam, namun fokus nya tetap ke jualan barang preloved. Jadi nggak perlu numpuk numpuk dirumah deh, hehe.

Warmest hug, Vina

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Contact Form

Name

Email *

Message *

Instagram

Follow Us